Tag

,

Introduksi :

a. Definisi

Suatu tindakan pembedahan dari palatum untuk menutup celah pada langitan dan mendapatkan fungsi langitan lunak yang normal.

b. Ruang Lingkup

Sumbing langitan

c. Indikasi Operasi

Sumbing langitan, Sindrom Pierre Robin,

d. Kontra indikasi operasi

– Bila didapatkan penyulit karena adanya kelainan kongenital lain

– Tidak memenuhi syarat rule of ten

e. Diagnosis banding (tidak ada)

f. Pemeriksaan Penunjang

Darah lengkap, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, faal pembekuan darah, serum albumin, serum elektrolit

Teknik Operasi

Palatoplasi sebaiknya dikerjakan sedini mungkin, sebelum pusat bicara di otak terbentuk penuh. Dokter hendaknya bekerja dengan trauma yang minimal, sehingga tidak terjadi fibrosis yang berlebihan. Restorasi otot-otot pengangkat dan penedang palatum mole diusahakan dilakukan dengan baik. Selain itu usahakan untuk memperpanjang palatum mole dalam arah depan belakang.

Alat-alat yang diperlukan diantaranya adalah pembuka mulut dengan penahan lidah, raspatorium lurus dan bengkok, pinset, gunting dan pemegang jarum dengan ukuran yang lebih panjang untuk mencapai kedalaman mulut, serta pengisap dengan ujung yang kecil.

Teknik operasi dimulai dengan insisi medial, dari palatum durum terus mengupas mukosa palatum mole dan membuka ototnya. Mukosa uvula dibuang dengan gunting. Insisi lateral dimulai dengan pembukaan flap muloperiosteal dibagian tengah menggunakan respatorium bengkok. Gerakan adalah dorongan ke tengah setelah ujung respatorium menyentuh tulang. Setelah terbuka sedikit, dipegang dengan pinset dan pembukaan diteruskan ke anterior menggunakan raspatorium lurus dengan gerakan mendorong flap yang ada. Tempat-tempat perlengketan (oleh serta-serat Sharpey) dibebaskan, kalau perlu secara tajam memakai pisau sampai ujung anterior flap bebas.

Ujung flap dipegang dengan pinset. Pangkal flap dibebaskan dnegna gerakan menorong ke belakang memakai raspatorium lurus sampai ke pedikel: a/v palatona major. Raspatorium bengkok dipakai untuk menekan bagian posterior pedikel. Dengan gerakan pelan, flap diangkat ke atas sehingga pedikel lebih bebas/mulur. Flap dibebaskan dari puncak hamulus memakai raspatorium lurus dengan gerakan ke medial. Sisi raspatorium bengkok dipakai untuk menekan jaringan lunak persis di belakang akhir tulang palatum durum. Setelah lepas dari tulang, raspa digeser ke depan sehingga mukosa nasal bebas. Langkah-langkah yang sama dikerjakan pada sisi yang sehat, setelah itu dilanjutkan dengna tindakan di bawah ini. Dengan raspatorium, mukosa septum dibebaskan. Kemudia mulai dilakukan penjahitan. Jahitan pertaa mempertautkan uvula. Dilanjutkan dengan memasang jahitan aposisi otot 3-4 buah. Usahakan memegang seluruh tebal otot. Jahitan mukosa sisi nasal dengan mukosa septum untuk ”nasal lining” dimulai dari yang paling mudah ditengah, diteruskan ke anterior baru ke posterior lagi. Penjahitan dilanjutkan dengan jahitan mukosa dan otot pada palatum mole. Jahitan diteruskan dengan aposisi ujung flap, pemasangan jahitan ujung flap ke alveolus anterior sumbing (agar di daerah celah tak terdapat sambungan). Jahitan ini sangat penting karena bila terlepas, flap akan mengkerut, fistula oronasal anterior akan lebih lebar, lebih sulit ditutup nantinya. Aposisi flap pada palatum durum bila perlu dengan jahitan matras agar tidak inversi. Bagian flap yang paling sulit diaposisikan, daerah setinggi pedikel, paling akhir dijahit. Jahitan flap mukosa periosteal dilanjutkan ke anterior. Ujung flap dijahitkan ke premaksila.Jahitan ini sangat penting, karena bila terlepas flap akan mengkerut ke posterior dan hubungan oro nasal antrior lebar yang sulit ditutup nantinya.

Komplikasi Operasi

  • Wound dehiscence paling sering terjadi akibat ketegangan yang berlebih dari tempat operasi
  • Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. Bila hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan, dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah.
  • Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam.
  • Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang dapat terjadi setelah operasi.
  • Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis.
  • Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung

Mortalitas

Bila disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk kondisi penderita

Perawatan Pasca bedah

  • Pemberian makanan per-oral : Untuk anak-anak yang mengkonsumsi ASI, dapat terus disusui setelah operasi. Bagi anak-anak yang menggunakan botol, disarankan untuk menggunakan ujung kateter yang lunak selama 10 hari, baru dilanjutkan dengan penggunaan ujung dot yang biasa.
  • Aktivitas : Tidak ada batasan aktivitas tertentu yang perlu dilakukan, namun hendaknya aktivitas perlu diperhatikan untuk meminimalisasi risiko trauma pada luka operasi.
  • Perawatan bibir : Garis jahitan yang terpapar pada dasar hidung dan bibir dapat dibersihkan dengan kapas yang diberi larutan hidrogen peroksida dan salep antibiotika yang diberikan beberapa kali perhari. Jahitan dapat diangkat pada hari ke 5 -7.

Follow – up

Setelah operasi labioplasti, pasien harus dievaluasi secara periodik terutama status kebersihan mulut dan gigi, pendengaran dan kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial.