Tag

, , , ,

Introduksi

a. Definisi

Tindakan pembedahan dengan melakukan penjahit dan atau pemotongan pada lien maupun tandur alih

b. Ruang lingkup

Trauma tumpul lien dapat terjadi akibat kekuatan kompresi dan deselerasi seperti tabrakan sepeda motor, jatuh dari ketinggian dan pukulan langsung pada abdomen. Trauma tajam lien jarang terjadi. Diagnosis ditegakkan melalui gejala klinis yaitu tanda hipovolemia dengan takikardi atau hipotensi dan mengeluh nyeri pada kuadran atas kiri abdomen yang menjalar ke bahu kiri (Kers’s sign) dan adanya tanda-tanda cairan bebas dalam rongga perut. Pemeriksaan fisik tidak spesifik dan sensitif pasien dengan fraktur kosta kiri bawah (9-12), 25% akan mengalami cedera lien.

c. Indikasi operasi

ruptur lien grade III dengan hemodinamik tidak stabil

ruptur lien grade IV-V

d. Kontra indikasi (tidak ada)

e. Diagnosis Banding

Perdarahan intraabdomen dengan penyebab diluar lien

f. Pemeriksaan penunjang

– USG atau DPL: dapat mendiagnosis adanya hemoperitoneum dengan cepat pada pasien yang hemodinaknya tidak stabil, sumber perdarahan tersering adalah dari lien.

CT Scan dilakukan pada pasien dengan hemodinamik stabil dapat juga sekaligus menentukan beratnya cedera

Angiografi digunakan sebagai metode penunjang pada pasien-pasien selektif, dengan

embolisasi terapetik pada perdarahan arteri.

Teknik Operasi

SPLENEKTOMI DAN SPLENORAFI

– Posisi pasien supinasi, dilakukan anestesi general

– Dilakukan tindakan aseptik pada seluruh abdomen dan dada bagian bawah

– Lapangan operasi dipersempit dengan linen steril

– Dilakukan insisi dilinea mediana mulai dari proses xiphardern hingga subrapubis

– Insisi diperdalam hingga mencapai cavum peritaneum

– Darah yang ada dalam cavum peritoneum dihisap keluar sehingga lien tampak jelas

– Pasang beberapa kasa tebal di postera lateral lien sehingga lien terdorong ke arah apevator

– Identifikasi hilus lien, lakukan kompresi, sehingga perdarahan dapat dikontrol

– Dilakukan evaluasi derajat cidera lien

– Bila derajat ruptur grade I, II atau III dapat dilakkan penyakit dengan benang chronic git 2-0

– Bila derajat ruptur gradr IV atau lebih, dilakukan pemasangan beberapa klem pada hilus lien. Vasa lienalis, vasugostrica brevis dan ligamentum gastrosplemik dipotong sedekat mungkin dengan lien

– Selanjutnya ligamentum splenokolik, splenorektal, splenophonik diklem dan dipotong. Lien dibebaskan dari perekatannya dengan jaringan retroperitoneal

– Evaluasi sumber-sumber perdarahan dan lakukan hemostasis secara cermat

– Cavum peritoneum dibersihkan dari sisa-sisa perdarahan denganNael steril

– Luka operasi ditutup lapis demi lapis

Komplikasi Operasi

Rebleeding, absess subphrenik kiri, pneumonia, trombositosis, infeksi post spleenektomi

Mortalitas

50% bila terjadi OPSI ( Overwhelming Post Splenectomy Infection)

Perawatan pasca Bedah

Hasil yang dicapai biasanya baik, perlunya diberikan vaksin H influenza dan meningococcal yang merupakan organisme yang sering menyebabkan OPSI. Vaksin diberikan 3-4 minggu postop.

Follow-Up

Vaksinasi pneumococcus diulangi 5 tahun kemudian.