PENANGGULANGAN TRAUMA HEPAR

Posted on Updated on

Introduksi

a. Defenisi

Penanganan trauma hepar dengan tindakan non operatif atau operatif.

b. Ruang lingkup

Trauma pada abdomen yang mencederai hepar, syok dan peritonitis memerlukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa serta tindakan yang cepat.

Dalam kaitan penegakan diagnosa dan pengobatan diperlukan beberapa disiplin ilmu seperti anastesi, dan radiologi.

c. Indikasi operasi

- Trauma hepar dengan syok

- Trauma hepar dengan peritonitis

- Trauma hepar dengan hematom yang meluas

- Trauma hepar dengan penanganan konservatif gagal

- Trauma hepar dengan cedera lain intra abdominal

d. Diagnosis banding

- Perdarahan intraabdominal disebabkan cedera organ selain hepar

e. Pemeriksaan penunjang

- USG Abdomen

- CT Scan

- DPL

Teknik Operasi

Penanggulangan Trauma hepar Non Operatif:

Trauma hepar dengan hemodinamik stabil dan tidak ada tanda pendarahan serta defans muscular dilakukan perawatan non-operatif dengan observasi ketat selama minimal 3 x 24 jam.

Harus dilakukan pemeriksaan CT Scan serial, USG maupun Hb serial.

Penanggulangan Trauma hepar secara operatif:

Secara singkat tehnik operasi pada trauma hepar dapat dijelaskan sebagai berikut.Setelah penderita diberi narkose dengan endotracheal lapangan operasi didesinfeksi dengan larutan desinfektan dan dipersempit dengan linen steril.Dilakukan incisi midline, darah dan bekuan darah segera dievacuasi.Lakukan packing pada masing masing quadrant abdomen untuk hemostasis dan memberikan kesempatan kepada anastesi untuk melakukan resusitasi intra operatif. Pada trauma hepar yang berat lakukan kontrol perdarahan dengan menekan secara langsung pada hepar dan packing dapat ditinggalkan dalam abdomen dan diangkat sesudah 48 sampai 72 jam.

Perdarahan yang sudah berhenti begitu cavum abdomen dibuka tidak perlu dilakukan tindakan penjahitan

Memobilisasi hepar

Pada trauma hepar yang tidak jelas sumber perdarahan hepar dapat dimobilisasi dengan memotong ligamentum inferior dan anterior dilanjutkan dengan memotong ligamentum falciforme.Untuk mobilisasi lebih luas dapat dipotong ligamentum triangular sinistra dan dekstra.

Pringle Maneuver

Untuk mencegah perdarahan hebat pada trauma hepar dan memudahkan tindakan pada parenchym hepar, aliran darah ke hepar dapat dihentikan dengan melakukan manuver prengle yakni dengan menutup triad portal di ergumentur hepatoduodenale dengan vascular clamp dan dibuka setiap 15-20 menit pada foramen winslow. Dengan vascular clamp pada hepatoduodenale ligament dan dibuka setiap 15 sampai 20 menit.

Penjahitan Hepar

Hepar dapat dijahit dengan chromic 2.0 dengan menggunakan jarum hepar yang panjang dan ini direkomendasikan pada cedera parenchym hepar yang berat.Jahitan secara matrass menyilang permukaan hepar yang cedera dan jangan terlalu tegang karena dapat merobek hepar.

Hepatoraphy dan finger fracture tehnik

Perdarahan persisten dari trauma hepar dapat dilakukan hepatoraphy untuk mengkontrol perdarahan.Lakukan Pringle Maneuver dan parencym hepar diincisi dengan electrocauter.Pembuluh darah dan bile duct diligasi.Hindarkan cedera dari ductus hepaticus kanan dan kiri. Lepaskan klem perlahan lahan dan apabila masih ada perdarahan ligasi kembali.Permukaan luka dijahit tanpa meninggalkan dead space. Bila ada dead space biarkan luka terbuka dan dilakukan omental patch.

Reseksi Hepar

Reseksi Hepar pada trauma hepar sangat jarang dilakukan. Reseksi hepar diindikasikan pada trauma hepar dengan kerusakan parenchym hepar yang sangat berat,perdarahan yang sangat sulit diatasi dengan berbagai maneuver dan hpotensi.Kerusakan bilateral dari hepar dapat dilakukan total reseksi dan dilakukan hepar transplantasi.

Prehepatic Packing

Tehnik prehepatic packing diindikasikan pada trauma hepar dengan coagulopathy akibat tansfusi, trauma hepar bilobar dengan perdarahan yang tidak dapat dikontrol, subkapsular hematom yang meluas dan rupture dan hypothermia. Packing dapat berupa kasa tebal yang luas diletakkan langsung pada permukaan anterior dan posterior hepar dan cavum abdomen ditutup.Pengangkatan packing dilakukan 24 – 48 jam kemudian. Cavum abdomen dicuci dan dipasang drain intra peritonial.

Komplikasi operasi

Komplikasi pada trauma hepar dapat berupa gangguan pembekuan darah hepar, terjadinya penurunan trombosit, perdarahan pasca operasi, hyperpyrexia , abses intra abdominal, fistula biliari fistula dan kegagalan fungsi hati. Dapat terjadi hemobilia atau bile duct stenosis.

Mortalitas

Mortalitas pada trauma hepar 10-15 %. Mortalitas rate pada kasus trauma tumpul adalah 31 %.

Perawatan Pasca Bedah

- Penderita dirawat di ICU atau ruang perawatan akut

- Bedrest, pasang NGI dan kateter usus

- Diet per oral diberikan bila saluran pencernaan telah berfungsi

Follow-up

- Bila cedera hepar cukup signifikan dan dilakukan non operatif managemen: Bedrest 2-3 hari

Follow-up CT-scan hari 5-7 pasca trauma, kemudian 1 bulan berikutnya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s